Sejarah Kampung Notoharjo

 Sejarah Singkat dari Kelurahan Notoharjo adalah salah satu dari 14 Kampung dan Kelurahan yang berada di wilayah Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah. Kelurahan Notohajo berbatasan langung dengan Kelurahan Untoro di sebelah Utara, Kelurahan Purwo Adi di sebelah timur, Kelurahan Trimurjo di sebelah selatan dan Kelurahan Sukajadi di sebelah barat.

 Kelurahan Notoharjo semula merupakan hutan belantara, di buka pada masa penjajahan Belanda oleh kolonisasi (transmigrasi) pada tahun 1936. Penduduk berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur yang pada waktu itu ditempatkan di Pringsewu kemudian diberangkatkan ke Hutan (sebelum menjadi Kelurahan Notoharjo) yang ditampung Bedeng yang sekarang menjadi Desa 17 Polos.

 Kemudian pada tahun 1937 sampai dengan 1938, oleh pemerintah Belanda di tambah penduduk yang didatangkan kembali dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, dengan itu berdirilah tiga Bedeng yang dikepalai oleh Kepala Bedeng atau sekarang Kepala Dusun, yang kemudian diberi nama 17 Polos (Nambah Rejo), 17 A (Nunggal Rejo), 18 Polos (Notoharjo/Mengger Rejo) dengan luas wilayah mencapai 477,25 Ha, serta memiliki lahan untuk pertanian seluas 317,43 Ha. Dari ketiga Dusun tersebut dijadikan sebuah Kelurahan, dengan Kepala Kampung/ Kelurahan pertama yaitu Bapak Harjo Diwarno yang dikukuhkan pada tahun 1939.

 Pada awal pembukaan lahan di sekitar Desa 18 Polos, dibangun sebuah pusat perdagangan untuk masyarakat yang ingin membeli atap rumah yang terbuat dari ilalang liar. Atap dari ilalang ini mempunyai nama yaitu “Welit”, nah dari sinilah jika orang mencari lokasi dari Desa 18 Polos terkadang menggunakan nama Pasar Welit.